Psikologi Pembelajaran

 Psikologi Pembelajaran


A. Pengertian Psikologi Pembelajaran 

1. Pengertian Psikologi

Psikologi berasal dari dua kata; psyche dan logos kata psyche dari bahasa yunani yang berarti nafas kehidupan yaitu jiwa atau ruh, sedangkan logos berarti Ilmu. Psikologi adalah kajian ilmiah tentang jiwa dan tingkah laku manusia. Menurut Dimyati mahmud (1989) gejala kejiwaan yang merupakan tingkah laku dalam wujud;

a. gejala pengenalan (kognitif)

b. gejala perasaan (afektif)

c. gejala kehendak atau psikomotorik (konatif)

d. gejala campuran (kombinasi)


2. Pengertian Pembelajaran

Istilah pembelajaran berasal dari kata Bahasa Inggris intruction yang dalam bahasa indonesia disebut intruksional artinya pengajaran. (Hamalik 2004) Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak. Belajar adalah suatu proses berbuat, bereaksi, memahami berkat adanya pengalaman. Interaksi siswa dengan guru dan lingkungan sehingga terjadi proses perubahan tingkah laku. Sedangkan pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap.



B. Proses Pembelajaran

Belajar bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran tertentu, tetapi bagaimana agar anak itu memiliki sejumlah kopetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat. 


Hakekat dan makna pembelajaran dapat ditandai dengan;

1. Pembelajaran adalah proses berpikir 

Dalam proses pembelajaran, La Costa (1985) mengklasifikasikan mengajar berfikir menjadi tiga, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, teaching about thinking. Teaching of thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan ketrampilan mental tertentu seperti ketrampilan berpikir kritis kreatif. Jenis pembelajaran ini menekankan pada aspek tujuan pembelajaran. Teaching for thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Contohnya menyiapkan suasana keterbukaan yang demokratis menyenangkan sehingga siswa berkembang secara optimal. Sedangkan teaching about thinking adalah pembelajaran yang diarahkan pada upaya untuk membantu agar siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya, jenis belajar ini lebih menekankan pada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.



2. Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak 

Pembelajaran berpikir adalah memanfaatkan potensi otak. Menurut Dave Meier, 2002 teori otak Triune yang berarti Tree in One yaitu otak manusia terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bawah otak repti, sistem limbik otak bagian tengah dan neokortek otak bagian atas.


Otak reptil adalah otak yang paling sederhana tugas utama otak ini adalah mempertahankan diri. Fungsi otak ini fungsi otomatis seperti deguban jantung, dan sistem peredaran darah. Otak reptil disebut otak hewan yaitu mengejar kekuasaan. Dia akan berjuang dengan cara apapun dalam memenuhi kebutuhannya termasuk dalam mempertahankan diri. Sistem limbik memainkan peranan besar dalam hubungan dengan manusia dan emosional. 


3. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat Sepanjang kehidupan manusia dalam mencapai tujuan dalam hidup akan dilalui dengan rintangan. Manakala rintangan sudah dilaluinya maka manusia akan dihadapkan pada tujuan dan masalah baru, untuk mencapai tujuan baru itu manusia akan dihadapkan pada rintangan baru pula. Untuk itu dalam hidup selalu ada pembelajaran.



C. Hasil Pembelajaran

Hasil belajar adalah perwujudan perilaku belajar yang biasanya terlihat dalam perubahan, kebiasaan, keterampilan, sikap, pengamatan, dan kemampuan. Keberhasilan seseorang di dalam mengikuti proses pembelajaran pada satu jenjang pendidikan tertentu dapat dilihat dari hasil belajar itu sendiri. Hasil belajar adalah informasi tentang kemajuan dalam upaya mencapai tujuan siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas maupun masing-masing individu, untuk mengetahui kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitan dan menyarankan kegiatan remedial atau perbaikan.


Menurut Sardiman (2007:16) Hasil Belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Oleh karena itu, apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah tidak hanya berupa penguasaan konsep tetapi juga keterampilan dan sikap.


Menurut Hamalik (2006:155) memberikan gambaran bahwa hasil belajar yang diperoleh dan diukur melalui kemajuan yang diperoleh siswa setelah belajar dengan sungguh-sungguh. Hasil belajar tampak terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur melalui perubahan sikap dan keterampilan.


Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan pembelajaran sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis yang mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar. Akhir dari proses adalah perolehan suatu hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar siswa. Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Menurut Warsito dalam Depdiknas (2006:125) Hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.



D. Ranah Belajar (Bloom)

Taksonomi Bloom merupakan struktur hierarki yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat terendah hingga tertinggi. Setiap tingkatan dalam Taksonomi Bloom memiliki korelasinya masing-masing. Maka, untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi, tentu tingkatan-tingkatan yang berada di bawahnya harus dikuasai terlebih dahulu. Konsep Taksonomi Bloom, membagi domainnya menjadi 3 ranah, yaitu: (1) ranah kognitif, (2) ranah afektif, dan (3) ranah psikomotorik.


1. Kognitif

Ranah Kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif memiliki enam jenjang atau aspek, yaitu:

a. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)

b. Pemahaman (comprehension)

c. Penerapan (application)

d. Analisis (analysis)

e. Sintesis (synthesis)

f. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)


2. Afektif

Menurut David R. Krathwohl (1974:54) menyatakan ranah afektif adalah ranah yang (1974:54) berkaitan dengan sikap dan nilai. Kondisi efektif peserta didik berhubungan dengan sikap, minat, dan nilai-nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes, tetapi dapat diperoleh melalui angket atau pengamatan yang sistematik dan berkelanjutan. Sistematik berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu, sedangkan berkelanjutan memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus. Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Pada pengajaran dari kemampuan afektif berhubungan dengan tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, dan jujur.


3. Psikomotorik

Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui:

a. Pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik langsung

b. Sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap

c. Beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya




Referensi:


Masduki. Y, Burlian. K, Yuslaini. 2019. Psikologi Pendidikan dan Pembelajaran. Yogyakarta: UAD Press

Nurjan, Syarifan. 2015, Psikologi belajar, Ponorogo : Wade Group

Wowo, Sunaryo, Kusnawa. 2012. Taksonomi Kognitif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Komentar

Postingan Populer