Teori Belajar dan Pembelajaran

Teori Belajar dan Pembelajaran

1. Peranan Teori dalam Pembelajaran

Peranan Teori dalam pembelajaran sangatlah penting, karena teori belajar pada dasarnya menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi pada seseorang. Artinya, teori belajar akan membantu guru menyelenggarakan proses pembelajaran dengan baik, efisien, dan efektif.



Dengan adanya teori belajar dalam pembelajaran guru dapat memanfaatkan pembelajaran untuk menjadi guru yang professional. Misalnya dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat, memilih strategi yang sesuai, memberikan bimbingan atau konseling, memfasilitasi dan memotivasi belajar, menciptakan suasana belajar yang kondusif, berinteraksi dengan siswa secara tepat dan memberi penilaian secara adil terhadap hasil pembelajaran. Tidak semua masalah dapat dipecahkan oleh teori, tetapi tanpa adanya teori, kita tidak akan tahu arah kemana dan dimana harus dimulai.


Bruner dalam Degeng (1989) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif, sedangkan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif artinya, tujuan teori pembelajaran adalah menetapkan metode/strategi pembelajaran yang cocok supaya memperoleh hasil optimal. Teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Ada beberapa teori pembelajaran, yaitu:


2. Teori Belajar Behavior


Menurut Desmita (2009: 44) teori belajar Behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Teori ini mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan merupakan satu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. 


a. Pembiasaan Operan (Skinner)


Teori pembelajaran pengondisian operant adalah jenis pengondisian di mana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku. Dengan demikian, penegasan akan memperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi. Apa yang dilakukan Pavlov untuk pengondisian klasik, oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner, dilakukan pengondisian operant. Skinner mengemukakan bahwa menciptakan konsekuensi yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut.



b. Pembiasaan Operan (Thorndike)


Teori koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike, memandang bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi antara kesan panca indera (sense of impression) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (impuls to action) (Mukminan, 1997 : 8). Ini artinya, toeri behaviorisme yang lebih dikenal dengan nama contemporary behaviorist ini memandang bahwa belajar akan terjadi pada diri anak, jika anak mempunyai ketertarikan terhadap masalah yang dihadapi. Siswa dalam konteks ini dihadapkan pada sikap untuk dapat memilih respons yang tepat dari berbagai respons yang mungin bisa dilakukan.



Menurut Thorndike, belajar akan berlangsung pada diri siswa jika siswa berada dalam tiga macam hukum belajar, yaitu : 1) The Law of Readiness (hokum kesiapan belajar), 2) The Law of Exercise (hukum latihan), dan 3) The Law of Effect (hokum pengaruh). Hukum kesiapan belajar ini merupakan prinsip yang menggambarkan suatu keadaan si pembelajar (siswa) cenderung akan mendapatkan kepuasan atau dapat juga ketidakpuasan.


c. Pembiasaan Klasik (Ivan Pavlov)


Teori pembelajaran pengondisian klasik adalah jenis pengondisian di mana individu merespons beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru. Teori ini tumbuh berdasarkan eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang ahli fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov. 



Konsep teori yang dikemukakan oleh Ivan Petrovitch Pavlov ini secara garis besar tidak jauh berbeda dengan pendapat Thorndike. Jika Throndike ini menekankan tentang hubungan stimulus dan respons, dan di sini guru sebaiknya tahu tentang apa yang akan diajarkan, respons apa yang diharapkan muncul pada diri siswa, serta tahu kapan sebaiknya hadiah sebagai reinforcement itu diberikan; maka Pavlov lebih mencermati arti pentingnya penciptaan kondisi atau lingkungan yang diperkirakan dapat menimbulkan respons pada diri siswa.


3. Teori Belajar Gestalt


Teori Psikologi Gestalt menekankan pada masalah kognisi dari kecerdasan seseorang ketika memahami sesuatu, serta pada pengingatan yang keduanya merupakan wujud dalam menanggapi lingkungannya (Oktiani, 2017).



Teori Belajar Gestalt sering disebut sebagai insight full learning atau field theory (Hanafy, 2014). Dilihat dari nama teori tersebut dan dengan aliran psikologi yang mendasari teori tersebut yaitu psikologi gestalt, jelas bahwa teori ini bertolak belakang dengan pendapat-pendapat dalam teori behavioristik. Belajar dengan menggunakan insight merupakan suatu konsep dimana dalam suatu unsur yang mengandung problem atau permasalahan seseorang melihat hubungan tertentu dalam suatu proses belajar. Insight juga sering dihubungkan dengan pernyataan spontan oh, see now atau aha (Nurjati, 2002)


Referensi : 


Muflihin, Hizbul. 2009. Aplikasi Dan Implikasi Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Pendidikan. 


Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: San Grafika.

Komentar

Postingan Populer